Rabu, 21 Maret 2012

RESUME PERUBAHAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DI INDONESIA PADA MASA KOLONIAL


PERUBAHAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DI INDONESIA PADA MASA KOLONIAL

1.  Kebijakan Pemerintah Kolonial Dalam Bidang Keagamaan Dan Dampaknya Terhadap Hubungan Antar Masyarakat Dan Masyarakat Dengan Negara
Peranan agama Islam di Indonesia pada abad ke-19 sangat penting. Akan tetapi praktik agama Islam pada masa itu bercampur dengan unsur-unsur non Islam, seperti mistik, kekuatan magis dan pola tradisional yang tidak sesuai dengan ajaran Islam murni. Hal ini mengakibatkan Islam mengalami kemunduran.
Kemudian agama Islam yang demikian menyebabkan munculnya gerakan Wahabi yang mengkeritik kemunduran Islam dengan menganjurkan supaya kembali kepada ajaran Islam murni dengan sesuai Al-qur`an dan Hadist.
Upaya pemurnian pelaksanaan Islam berkembang pesat di Indonesia. Pengaruh lingkungan kehidupan Islam pada rakyat pedesaan cukup besar. Pengaruh itu terutama dalam mengadakan reaksi terhadap pemerintah Kolonial, mereka memandang pemerintah kolonial dan pengikutnya sebagai lawannya.
Kekuatan yang ada dalam lingkungan muslim terpusat pada ajaran Jihad atau perang Sabil yang terbina dalam pesantren dan ajaran tarekat. Kyai menjadi tokoh pemimpin yang berpengaruh dalam pergerakan masa. Bentuk perlawanan dari orang Islam antara lain, perang padri, perang aceh, dan etong gendut.
Hal tersebut dijadikan alasan pemerintah kolonial dalam menganggap Islam sebagai gerakkan anti Belanda. Pemerintah kolonial menganggap gerakan Islam selalu membahayakan pemerintah, misalnya : Perlawanan terekat Naqsyahbandiah dan Qadiriyah di Banten ( 1880-an ) dan gerakan Budiah yang di pimpin H.Muhammad Rifangi di Pengalongan.
Strategi yang digunakan pemerintah kolonial adalah melakukan adu domba antara penguasa pribumi dengan pimpinan agama ( Ulama ). Hal ini disebabkan karna lembaga tersebut terdiri atas orang yang berusaha membersihkan Indonesia dari penjajah.
2.  Kedudukan Dan Peran Perempuan Dalam Kehidupan Masyarakat
Kedudukan peran perempuan Indonesia agak terpinggirkan sejak sebelum masuknya bangsa Eropa. Adat istiadat yang mengekang, kurangnya pendidikan dan pengajaran kesewenangan dalam perkawinan dan sebagainya. Telah menyebabkan kedudukan perempuan semakin terpinggirkan.
Sejak abad-19 pembeharuan di Indonesia berakibat timbulnya perubahan dalam masyarakat. Kemajuan pendidikan membawa paham baru dari Eropa yang selanjutnya akan menyadarkan bangsa Indonesia kesamaan antar bangsa, kesamaan hak dan kedudukan laki-laki dan perempuan.
Gagasan tentang kemajuan itu juga muncul pada diri R.A Kartini ( 1879-1904 ). Raden Ajeng (RA) Kartini, pelopor gerakan emansipasi menyerukan agar wanita Indonesia diberi pendidikan. Buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis pada tahun 1899 yang berisi kehidupan keluarga, adat istiadat, keterbelakangan wanita, cita-cita, terhadap kebahagiaan bangsanya.
Pada tahun 1920 mulai muncul perkumpulan wanita yang bersifat kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang lebih luas dari pada perkumpulan wanita yang sebelumnya. Di Minahasa didirikan Vrovwen Vereeningi, sedangkan di Yogyakarta didirikan perkumpulan wanita Utomo. Corak kebangsaan sudah mulai masuk dan besar pengaruhnya dalam pergerakan wanita setelah tahun 1920.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar